Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah
berkata, “Dahulu dikatakan: Bahwa seorang hamba akan senantiasa berada
dalam kebaikan, selama jika dia berkata maka dia berkata karena Allah,
dan apabila dia beramal maka dia pun beramal karena Allah.” (lihat Ta’thir al-Anfas min Hadits al-Ikhlas, hal. 592)
Sufyan ats-Tsauri rahimahullah
berkata kepada seseorang sembari menasihatinya, “Hati-hatilah kamu
wahai saudaraku, dari riya’ dalam ucapan dan amalan. Sesungguhnya hal
itu adalah syirik yang sebenarnya. Dan jauhilah ujub, karena
sesungguhnya amal salih tidak akan terangkat dalam keadaan ia tercampuri
ujub.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 578)
al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah
berkata, “Dahulu kami bertemu dengan orang-orang yang riya’ dengan ilmu
yang mereka punyai. Namun sekarang, mereka telah berubah yaitu riya’
dengan ilmu yang tidak mereka miliki.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 567)
Hasan al-Bashri rahimahullah
mengatakan,”Barangsiapa yang mencela dirinya sendiri di hadapan banyak
orang sesungguhnya dia telah memuji dirinya, dan hal itu adalah salah
satu tanda riya’.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 543)
Sebagian orang bijak berkata,
“Menyembunyikan ilmu adalah kebinasaan, sedangkan menyembunyikan amalan
adalah keselamatan.” (lihat al-Istidzkar, Jilid 5 hal. 330)
Imam Ibnul Mulaqqin rahimahullah berkata, “Mengikhlaskan niat untuk Allah ta’ala
senantiasa menjadi syari’at/ajaran semenjak masa-masa umat sebelum kita
dan kemudian dilanjutkan di masa kita yang datang sesudah mereka. Allah
ta’ala
berfirman (yang artinya), “Allah mensyariatkan untuk kalian agama
sebagaimana apa yang telah diwasiatkan kepada Nuh.” (QS. Asy-Syura: 13).
Abul ‘Aliyah menafsirkan, “Allah mewasiatkan kepada mereka untuk ikhlas
kepada Allah ta’ala dan beribadah kepada-Nya yang tidak ada sekutu bagi-Nya”…” (lihat al-I’lam bi Fawa’id ‘Umdah al-Ahkam Jilid 1 hal. 164)
Syaikh as-Sa’di rahimahullah
berkata, “Sesungguhnya amal-amal itu menjadi berbeda-beda keutamaannya
dan akan semakin besar pahalanya sebanding dengan apa-apa yang ada di
dalam hati si pelaku amalan, yaitu iman dan keikhlasan…” (lihat Bahjah al-Qulub al-Abrar, dalam al-Majmu’ah al-Kamilah Juz 9 hal. 11)
Imam an-Nawawi rahimahullah
berkata, “Sesungguhnya amal yang sedikit tapi terus-menerus itu lebih
baik daripada amal yang banyak dan terputus dikarenakan dengan
terus-menerusnya amal yang sedikit itu akan lebih melanggengkan
ketaatan, melestarikan dzikir dan muroqobah, menjaga niat dan keikhlasan
dan memelihara konsentrasi pengabdian kepada al-Khaliq subhanahu wa ta’ala.
Dengan alasan-alasan itulah amal yang sedikit tapi kontinyu akan
membuahkan pahala yang jauh lebih berlipat ganda daripada amalan yang
besar tapi terputus. (lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayani Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 88)
Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Orang yang paling utama adalah orang yang menempuh jalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
jalan para Sahabatnya yang istimewa yaitu melakukan ibadah badaniyah
secara sederhana/pertengahan dan lebih bersungguh-sungguh dalam
mengurusi ibadah-ibadah hati. Karena sesungguhnya perjalanan menuju
kampung akhirat itu dilalui dengan perjalanan hati, bukan [semata-mata]
perjalanan badan.” (lihat Tajrid al-Ittiba’ fi Bayani Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 101)
Sufyan ats-Tsauri rahimahullah
berkata: “Aku telah berjumpa dengan para fuqoha/ahli agama, dalam
keadaan mereka tidak suka memberikan jawaban untuk masalah dan
permintaan fatwa. Mereka tidak berfatwa kecuali dalam keadaan tidak ada
pilihan lain bagi mereka kecuali harus berfatwa.” (lihat mukadimah Kitab
az-Zuhd Mu’afa bin ‘Imran, hal. 58)
Ibrahim at-Taimi rahimahullah
berkata, “Tidaklah aku menghadapkan/menguji ucapanku kepada amal yang
aku lakukan, melainkan aku takut kalau aku menjadi orang yang
didustakan.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1167)
Ibrahim an-Nakha’i rahimahullah mengatakan, “Nyanyian/lagu-lagu itu akan menumbuhkan kemunafikan di dalam hati.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1222)
Mu’awiyah bin Qurrah rahimahullah
berkata, “Apabila di dalam diriku tidak ada kemunafikan maka sungguh
itu jauh lebih aku sukai daripada dunia seisinya. Adalah ‘Umar radhiyallahu’anhu mengkhawatirkan hal itu, sementara aku justru merasa aman darinya!” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1223)
Ayyub as-Sakhtiyani rahimahullah
berkata, “Setiap ayat di dalam al-Qur’an yang di dalamnya terdapat
penyebutan mengenai kemunafikan, maka aku mengkhawatirkan hal itu ada di
dalam diriku!” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1223)
Adalah Ibnu Muhairiz rahimahullah,
apabila ada orang yang memuji-muji dirinya maka dia berkata, “Tidakkah
kamu mengetahui? Apa sih yang kamu ketahui -tentang diriku, pent-?”
(lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa‘, hal. 742)
Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah
berkata, “Para ulama mengatakan bahwa pujian tidak akan memperdaya
seorang yang benar-benar telah mengenali hakikat dirinya sendiri.”
(lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa‘, hal. 743)
Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang tidak khawatir tertimpa kemunafikan maka dia adalah orang munafik.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1218)
Imam Ibnul Qoyyim rahimahulllah
berkata, “… Seandainya ilmu bisa bermanfaat tanpa amalan niscaya Allah
Yang Maha Suci tidak akan mencela para pendeta Ahli Kitab. Dan jika
seandainya amalan bisa bermanfaat tanpa adanya keikhlasan niscaya Allah
juga tidak akan mencela orang-orang munafik.” (lihat al-Fawa’id, hal. 34)
Malik bin Dinar rahimahullah
berkata, “Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk diamalkan niscaya Allah
berikan taufik kepadanya. Dan barangsiapa menuntut ilmu bukan untuk
diamalkan maka ilmunya akan semakin membuatnya congkak.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 569)
Imam Ibnu Baththal rahimahullah
berkata, “Barangsiapa yang mempelajari hadits demi memalingkan
wajah-wajah manusia kepada dirinya maka di akherat Allah akan
memalingkan wajahnya menuju neraka.” (lihat Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Baththal, 1/136)
Sa’id bin Jubair rahimahullah
berkata: Ada seorang rahib yang bertemu denganku. Dia berkata, “Wahai
Sa’id. Dalam fitnah akan menjadi jelas siapa yang menyembah Allah dan
siapa yang menyembah thaghut.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 593)
Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Tidak bisa mengenali riya’ kecuali orang yang ikhlas.” (lihat Bustan al-Arifin, hal. 99)
Imam Yahya bin Ma’in rahimahullah
berkata, “Tidaklah aku melihat seorang semisal Ahmad bin Hanbal. Kami
telah bersahabat dengannya selama lima puluh tahun, meskipun demikian
beliau sama sekali tidak pernah membanggakan kepada kami apa-apa yang
ada pada dirinya berupa kesalihan dan kebaikan.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 536)
Muhammad bin Wasi’ rahimahullah
berkata, “Seandainya dosa itu mengeluarkan bau niscaya kalian tidak
akan sanggup mendekat kepadaku, karena betapa busuknya bau [dosa] yang
keluar dariku.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 365)
Qotadah rahimahullah berkata, “Aku tidak pernah berfatwa dengan pendapatku sendiri sejak tiga puluh tahun lamanya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 367)
Yahya bin Abi Katsir rahimahullah
berkata: Malaikat naik ke langit membawa amal seorang hamba dengan
perasaan gembira. Apabila dia telah sampai di hadapan Rabbnya, maka
Allah pun berkata kepadanya, “Letakkan ia di dalam Sijjin [catatan
dosa], karena amalan ini tidak ikhlas/murni ditujukan kepada-Ku.” (lihat
al-Ikhlas wa an-Niyah, hal. 45)
Ibnu Abi Zaid al-Qairawani rahimahullah
mengatakan, “Iman adalah ucapan dengan lisan, keikhlasan dengan hati,
dan amal dengan anggota badan. Ia bertambah dengan bertambahnya amalan
dan berkurang dengan berkurangnya amalan. Sehingga amal-amal bisa
mengalami pengurangan dan ia juga merupakan penyebab pertambahan -iman-.
Tidak sempurna ucapan iman apabila tidak disertai dengan amal. Ucapan
dan amal juga tidak sempurna apabila tidak dilandasi oleh niat -yang
benar-. Sementara ucapan, amal, dan niat pun tidak sempurna kecuali
apabila sesuai dengan as-Sunnah/tuntunan.” (lihat Qathfu al-Jana ad-Dani, hal. 47)
Rabi’ bin Anas rahimahullah
mengatakan, “Tanda agama adalah mengikhlaskan amal untuk Allah,
sedangkan tanda keilmuan adalah rasa takut kepada Allah.” (lihat al-Ikhlas wa an-Niyah, karya Imam Ibnu Abid Dun-ya, hal. 23)
Muhammad bin Wasi’ rahimahullah
berkata, “Apabila seorang hamba menghadapkan hatinya -untuk mengabdi-
kepada Allah maka Allah pun akan menghadapkan hati hamba-hamba-Nya
-untuk senang- kepadanya.” (lihat al-Ikhlas wa an-Niyah, hal. 41)
Hasan al-Bashri rahimahullah
berkata, “Benar-benar ada dahulu seorang lelaki yang memilih waktu
tertentu untuk menyendiri, menunaikan sholat dan menasehati keluarganya
pada waktu itu, lalu dia berpesan: Jika ada orang yang mencariku,
katakanlah kepadanya bahwa ‘dia sedang ada keperluan’.” (lihat al-Ikhlas wa an-Niyyah, hal.65)
Imam Nawawi rahimahullah
berkata, “Ketahuilah, bahwasanya keikhlasan seringkali terserang oleh
penyakit ujub. Barangsiapa yang ujub dengan amalnya maka amalnya
terhapus. Begitu pula orang yang menyombongkan diri dengan amalnya maka
amalnya pun menjadi terhapus.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 584)
Hisyam ad-Dastuwa’i rahimahullah berkata,
“Demi Allah, aku tidak mampu untuk berkata bahwa suatu hari aku pernah
berangkat untuk menuntut hadits dalam keadaan ikhlas karena mengharap
wajah Allah ‘azza wa jalla.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 254)
Abu Utsman al-Maghribi rahimahullah
berkata, “Ikhlas adalah melupakan pandangan orang dengan senantiasa
memperhatikan pandangan Allah. Barangsiapa yang menampilkan dirinya
berhias dengan sesuatu yang tidak dimilikinya niscaya akan jatuh
kedudukannya di mata Allah.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 86)
as-Susi rahimahullah
berkata, “Ikhlas itu adalah dengan tidak memandang diri telah ikhlas.
Barangsiapa yang mempersaksikan kepada orang lain bahwa dirinya
benar-benar telah ikhlas itu artinya keikhlasannya masih belum
sempurna.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 86)
Ibrahim at-Taimi rahimahullah
berkata, “Orang yang ikhlas adalah yang berusaha menyembunyikan
kebaikan-kebaikannya sebagaimana dia suka menyembunyikan
kejelekan-kejelakannya.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 252)
Sufyan bin Uyainah berkata: Abu Hazim rahimahullah berkata, “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu lebih daripada kesungguhanmu dalam menyembunyikan kejelekan-kejelekanmu.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 231).
Muhammad bin Wasi’ rahimahullah berkata,
“Sungguh aku telah bertemu dengan orang-orang, yang mana seorang lelaki
di antara mereka kepalanya berada satu bantal dengan kepala istrinya
dan basahlah apa yang berada di bawah pipinya karena tangisannya tetapi
istrinya tidak menyadari hal itu. Dan sungguh aku telah bertemu dengan
orang-orang yang salah seorang di antara mereka berdiri di shaf [sholat]
hingga air matanya mengaliri pipinya sedangkan orang di sampingnya
tidak mengetahui hal itu.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 249)
Sahl bin Abdullah at-Tustari rahimahullah
mengatakan, “Orang-orang yang cerdas memandang tentang hakikat ikhlas
ternyata mereka tidak menemukan kesimpulan kecuali hal ini; yaitu
hendaklah gerakan dan diam yang dilakukan, yang tersembunyi maupun yang
tampak, semuanya dipersembahkan untuk Allah ta’ala semata. Tidak dicampuri apa pun; apakah itu kepentingan pribadi, hawa nafsu, maupun perkara dunia.” (lihat Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, hal. 7-8)
Abul Qasim al-Qusyairi rahimahullah
mengatakan, “Ikhlas adalah menunggalkan al-Haq (Allah) dalam hal niat
melakukan ketaatan, yaitu dia berniat dengan ketaatannya dalam rangka
mendekatkan diri kepada Allah ta’ala.
Bukan karena ambisi-ambisi lain, semisal mencari kedudukan di hadapan
manusia, mengejar pujian orang-orang, gandrung terhadap sanjungan, atau
tujuan apapun selain mendekatkan diri kepada Allah ta’ala.” (lihat Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, hal. 8)
al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah
mengatakan, “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’ sedangkan
beramal untuk dipersembahkan kepada manusia merupakan kemusyrikan.
Adapun ikhlas itu adalah tatkala Allah menyelamatkan dirimu dari
keduanya.” (lihat Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, hal. 8)
Yusuf bin al-Husain rahimahullah berkata, “Sesuatu yang paling sulit di dunia ini adalah ikhlas.” (lihat Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, hal. 8)
Sufyan ats-Tsauri rahimahullah
mengatakan, “Tidaklah aku mengobati suatu penyakit yang lebih sulit
daripada masalah niatku. Karena ia sering berbolak-balik.” (lihat Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, hal. 8)
Seorang lelaki berkata kepada Muhammad bin Nadhr rahimahullah,
“Dimanakah aku bisa beribadah kepada Allah?” Maka beliau menjawab,
“Perbaikilah hatimu, dan beribadahlah kepada-Nya di mana pun kamu
berada.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 594)
Abu Turab rahimahullah
mengatakan, “Apabila seorang hamba bersikap tulus/jujur dalam amalannya
niscaya dia akan merasakan kelezatan amal itu sebelum melakukannya. Dan
apabila seorang hamba ikhlas dalam beramal, niscaya dia akan merasakan
kelezatan amal itu di saat sedang melakukannya.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 594)
Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu
ditanya tentang orang-orang yang bertakwa. Beliau pun menjawab, “Mereka
adalah suatu kaum yang menjaga diri dari kemusyrikan dan peribadahan
kepada berhala, serta mengikhlaskan ibadah mereka untuk Allah semata.”
(lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 211)
Abul Aliyah berkata: Para Sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
berpesan kepadaku, “Janganlah kamu beramal untuk selain Allah. Karena
hal itu akan membuat Allah menyandarkan hatimu kepada orang yang kamu
beramal karenanya.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 568)
Ibnul Qayyim rahimahullah
berkata, “Barangsiapa yang membiasakan dirinya untuk beramal ikhlas
karena Allah niscaya tidak ada sesuatu yang lebih berat baginya daripada
beramal untuk selain-Nya. Dan barangsiapa yang membiasakan dirinya
untuk memuaskan hawa nafsu dan ambisinya maka tidak ada sesuatu yang
lebih berat baginya daripada ikhlas dan beramal untuk Allah.” (lihat Ma’alim Fi Thariq al-Ishlah, hal. 7)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah
berkata, “Seandainya seorang yang menyampaikan kebenaran memiliki niat
untuk mendapatkan ketinggian di muka bumi (kedudukan) atau untuk
menimbulkan kerusakan, maka kedudukan orang itu seperti halnya orang
yang berperang karena fanatisme dan riya’. Namun, apabila dia berbicara
karena Allah; ikhlas demi menjalankan [ajaran] agama untuk-Nya semata,
maka dia termasuk golongan orang yang berjihad di jalan Allah, termasuk
jajaran pewaris para nabi dan khalifah para rasul.” (lihat Dhawabith wa Fiqh Da’wah ‘inda Syaikhil Islam, hal. 109)
Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah
berkata “… Tidaklah diragukan bahwasanya keikhlasan seorang da’i
memiliki pengaruh yang kuat terhadap mad’u/objek dakwah. Apabila seorang
da’i itu adalah orang yang ikhlas dalam niatnya. Dia juga menyeru
kepada manhaj yang benar. Dia membangun dakwahnya di atas
bashirah/hujjah dan ilmu mengenai apa yang dia serukan itu. Maka dakwah
semacam inilah yang akan memberikan pengaruh/bekas kepada para mad’u…”
(lihat al-Ajwibah al-Mufidah ‘an As’ilah al-Manahij al-Jadidah, hal. 42)

Komentar
Posting Komentar