Pelaku maksiat merasakan kegelapan di dalam hatinya sebagaimana merasakan gelapnya malam jika telah larut. Ketaatan adalah cahaya dan maksiat adalah kegelapan. Jika kegelapan mengaut, maka kebingungan juga bertambah sehingga pelakunya terjatuh dalam berbagai bid’ah dan perkara yang membinasakan, sedangkan ia tidak menyadarinya.
Kegelapan maksiat akan menguat hingga terlihat di mata, lalu menguat lagi sampai menyelimuti wajah, dan menjadi tanda hitam, hingga setiap orang mampu melihatnya.
Abdullah bin Abbas berkata :
Sesungguhnya kebaikan mempunyai sinar di wajah, cahaya hati, kelapangan dalam rizki, kekuatan pada tubuh, serta cinta di hati para makhluk. Sesungguhnya keburukan memiliki tanda hitam di wajah, kegelapan di hati, kelemahan di tubuh, kekurangan dalam rizki, serta kebencian di hati para makhluk.
*Dalam keterangan riwayat di buku dikatakan penulis belum menemukan atsar tsb yang sumbernya dari Ibnu Abbas Radiallahu anhu. Namun ada yang semisal dengannya berupa penggalan perkataan Ibrahim bin Adham yang diriwayatkan al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab (no.6828). Hal ini juga diriwayatkan Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (II/161) secara mar’fu dari Anas, tetapi itu adalah hadist munkar, sebagaimana komentar Abu Hatim dalam Ilalul Hadiist (1909).

Komentar
Posting Komentar