Barangsiapa yang sejak awal memperhatikan kesudahan dari berbagai perkara dengan mata hatinya, niscaya dia akan mendapatkan kebaikan dan selamat dari keburukannya. Sedangkan orang yang tidak memperhatikan kesudahan berbagai perkara, maka perasaan akan mendominasi dirinya. Maka keselamatan yang sebenarnya dia cari, justru akan berbalik menjadi kepedihan; dan kenyamanan yang sebetulnya dia dambakan, akan berbalik menjadi kepayahan.
Penjelasan akan hal ini pada masa yang akan datang bisa menjadi jelas dengan mengingat hal-hal yang telah lalu : yaitu engkau tak lepas dari dua keadaan, yakni :
Sepanjang umurmu engkau taat kepada Allah , atau durhaka kepada-Nya; lalu dimanakah kenikmatan maksiatmu itu sekarang? Dan dimanakah sekarang rasa letih yang disebabkan ketaatan yang engkau kerjakan dahulu? Sungguh jauh bedanya; masing-masing pergi dengan membawa apa yang ada padanya.
Andai saja dosa-dosa itu bila ditinggalkan akan membuatmu terbebas dari duka nestapa.
Aku perjelas lagi tentang hal ini : Gambarkan saat-saat kematian menjelang, dan lihatlah betapa pahitnya penyesalan atas kelalaian. Aku tidak mengatakan ia (kematian) mengalahkan (melupakan) manisnya kenikmatan; karena manisnya kenikmatan telah beralih rupa menjadi buah yang pahit, sehingga yang tersisa hanyalah pahitnya kesedihan tanpa ada sesuatu yang melawannya.
Apakah engkau belum tahu juga bahwa segala hal tergantung pada kesudahannya?!
Maka perhatikanlah kesudahan segala perkara, niscaya engkau akan selamat. Dan janganlah engkau hanyut bersama hawa nafsu, karena engkau akan menyesal.
~ Shaidul Khatir, Ibnul Jauzi, Penerbit Darul Haq ~
~ Shaidul Khatir, Ibnul Jauzi, Penerbit Darul Haq ~

Komentar
Posting Komentar