Langsung ke konten utama

Kelalaian dan Mawas Diri


Terkadang muncul mawas diri (kesadaran) kala seseorang tengah mendengarkan wejangan. Namun kala dia sudah berpisah dari majelis ilmu tersebut, kerasnya hati dan kelalaian pun muncul kembali. Aku pun merenungkan penyebab hal itu. Akhirnya aku pun tahu. Dan aku perhatikan orang-orang berbeda-beda dalam masalah ini. Kondisi umumnya orang-orang, bahwa saat mendengar dan seusai mendengar wejangan, hati tidak mempunyai sifat mawas diri yang sama dikarenakan dua sebab:

Pertama: Bahwa wejangan itu bagaikan cambuk. Dan cambuk sendiri setelah masa reaksinya habis tidak lagi menyakitkan seperti halnya rasa sakit kala cambuk itu di pukul kan.

Kedua : Dalam kondisi tengah mendengarkan wejangan, seseorang menyingkirkan penyakit hatinya ketika itu. Dia kosongkan badan dan pikirannya dari berbagai tendensi duniawi dan dia mendengarkan dengan seksama sepenuh hati. Namun kala dia kembali pada kesibukannya, dia pun terjerat virus yang bersarang dalam aktifitas dunianya. Maka bagaimana mungkin kondisi hatinya menjadi seperti kondisi sebelumnya yaitu saat tengah mendengar wejangan?

Kondisi ini berlaku umum bagi semua orang. Hanya saja orang-orang yang punya mawas diri berbeda-beda dalam hal sejauh mana pengaruh tersebut terus tetap membekas dalam dirinya.

Diantara mereka ada yang punya tekat bulat tanpa ada keraguan. Dia terus melenggang tanpa menoleh. Andaikan tabiat jiwa menghentikan langkah mereka, pastilah mereka meradang, sebagaimana yang diungkapkan Hanzhalah mengenai dirinya,

“Hanzhalah sudah terjangkit nifak (sifat munafik)” [HR Muslim 2750]
Diantara mereka ada pula orang-orang yang tabiat mereka sesekali condong kepada kelalaian, dan wejangan-wejangan tadi kadang bisa memotivasi mereka untuk beramal. Maka mereka ini bagaikan bulir padi yang diombang-ambingkan angin.Adalagi orang-orang yang mana wejangan tidak berpengaruh pada mereka kecuali sebatas apa yang dia dengar, seperti halnya air yang engkau gulirkan di atas batu yang halus.

~ Shaidul Khatir, Ibnul Jauzi, Penerbit Darul Haq ~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia-rahasia yang Terpendam dalam Jiwa

Aku perhatikan tentang dalil-dalil adanya Allah Yang Maha Haq, maka aku mendapatkannya lebih banyak dari butiran pasir. Dan aku perhatikan yang paling menakjubkan adalah : Bahwa kadang manusia menyembunyikan hal yang tidak diridhai oleh Allah, lalu Allah menampakkannya pada dirinya meski setelah berlalu beberapa waktu. Atau Allah menjadikan lidah-lidah (manusia) menuturkannya meskipun orang-orang tidak menyaksikannya. Terkadang juga menjadikan si pelaku tertimpa suatu penyakit, di mana Allah mempermalukan si pelaku dengan penyakit di hadapan orang-orang. Sehingga ini menjadi jawaban dari setiap dosa yang dia sembunyikan. Hal itu agar orang tahu bahwa terdapat Dzat yang membalas atas suatu dosa. Tak ada tirai atau penghalang yang bisa menutupi dari takdir dan kuasaNya. Tak ada amal yang sia-sia di sisiNya. Demikian pula seseorang menyembunyikan ketaatan, maka itu pun akan tampak pula. Orang-orang akan memperbincangkannya dan bahkan (memperbincangkan) lebih dari itu, sampai-...

9. Kemaksiatan Memperpendek Umur dan Menghilangkan Keberkahannya

Jika seseorang berpaling dari Allah dan sibuk dengan kemaksiatan maka sirnalah kehidupan hakikinya yang kelak dia temui. Pelakunya akan merasakan akibat kemaksiatan tersebut pada hari ketika ia mengungkapkan penyesalannya. Rahasia masalah ini terletak pada pengertian umur manusia sebagai masa hidupnya. Tidak ada kehidupan baginya kecuali dengan mendekatkan diri kepada Rabbnya, menikmati dzikir dan kecintaan kepada-Nya, serta mengutamakan ridha-Nya. Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini. ( QS. Al-Fajr : 24 )

7. Maksiat Melemahkan Hati dan Badan

Dampak buruk maksiat dengan melemahnya hari merupakan perkara yang tampak dengan jelas, bahkan akan senantiasa memperlemahnya hingga berhasil memadamkan cahaya hati secara keseluruhan. Adapun pengaruhnya yang melemahkan badan dikarenakan kekuatan seseorang Mukmin bersumber dari hati. Jika hatinya kuat, maka badannya juga demikian. Adapun orang yang berdosa adalah orang yang paling lemah ketika dibutuhkan, meskipun memiliki tubuh yang kuat.