Terkadang muncul mawas diri (kesadaran) kala seseorang tengah mendengarkan wejangan. Namun kala dia sudah berpisah dari majelis ilmu tersebut, kerasnya hati dan kelalaian pun muncul kembali. Aku pun merenungkan penyebab hal itu. Akhirnya aku pun tahu. Dan aku perhatikan orang-orang berbeda-beda dalam masalah ini. Kondisi umumnya orang-orang, bahwa saat mendengar dan seusai mendengar wejangan, hati tidak mempunyai sifat mawas diri yang sama dikarenakan dua sebab:
Pertama: Bahwa wejangan itu bagaikan cambuk. Dan cambuk sendiri setelah masa reaksinya habis tidak lagi menyakitkan seperti halnya rasa sakit kala cambuk itu di pukul kan.
Kedua : Dalam kondisi tengah mendengarkan wejangan, seseorang menyingkirkan penyakit hatinya ketika itu. Dia kosongkan badan dan pikirannya dari berbagai tendensi duniawi dan dia mendengarkan dengan seksama sepenuh hati. Namun kala dia kembali pada kesibukannya, dia pun terjerat virus yang bersarang dalam aktifitas dunianya. Maka bagaimana mungkin kondisi hatinya menjadi seperti kondisi sebelumnya yaitu saat tengah mendengar wejangan?
Kondisi ini berlaku umum bagi semua orang. Hanya saja orang-orang yang punya mawas diri berbeda-beda dalam hal sejauh mana pengaruh tersebut terus tetap membekas dalam dirinya.
Diantara mereka ada yang punya tekat bulat tanpa ada keraguan. Dia terus melenggang tanpa menoleh. Andaikan tabiat jiwa menghentikan langkah mereka, pastilah mereka meradang, sebagaimana yang diungkapkan Hanzhalah mengenai dirinya,
“Hanzhalah sudah terjangkit nifak (sifat munafik)” [HR Muslim 2750]
Diantara mereka ada pula orang-orang yang tabiat mereka sesekali condong kepada kelalaian, dan wejangan-wejangan tadi kadang bisa memotivasi mereka untuk beramal. Maka mereka ini bagaikan bulir padi yang diombang-ambingkan angin.Adalagi orang-orang yang mana wejangan tidak berpengaruh pada mereka kecuali sebatas apa yang dia dengar, seperti halnya air yang engkau gulirkan di atas batu yang halus.
~ Shaidul Khatir, Ibnul Jauzi, Penerbit Darul Haq ~
Diantara mereka ada pula orang-orang yang tabiat mereka sesekali condong kepada kelalaian, dan wejangan-wejangan tadi kadang bisa memotivasi mereka untuk beramal. Maka mereka ini bagaikan bulir padi yang diombang-ambingkan angin.Adalagi orang-orang yang mana wejangan tidak berpengaruh pada mereka kecuali sebatas apa yang dia dengar, seperti halnya air yang engkau gulirkan di atas batu yang halus.
~ Shaidul Khatir, Ibnul Jauzi, Penerbit Darul Haq ~

Komentar
Posting Komentar