Aku merenungkan urusan dunia dan akhirat, maka aku dapatkan bahwa peristiwa dunia bisa diindera (dirasakan) dan natural; sedangkan peristiwa akhirat adalah bersifat keimanan dan keyakinan. Hal-hal yang bisa dirasakan (bisa diindera) itu lebih kuat magnetnya bagi orang yang ilmu dan keyakinannya belum kuat.
Berbagai peristiwa akan terus ada dikarenakan banyaknya faktor yang menyebabkannya, maka (banyak) berbaur dengan orang-orang, melihat hal-hal yang indah, dan merasakan hal-hal yang nikmat, ini akan menguatkan (lebih dapat merasakan) berbagai peristiwa indrawi. Sedangkan menyendiri (untuk merenung), berpikir, dan mencermati ilmu akan menguatkan (pengetahuan tentang) berbagai peristiwa akhirat,
Hal ini akan tampak jelas bila seseorang keluar berjalan-jalan di pasar dan melihat berbagai perhiasan dunia, kemudian dia masuk ke pekuburan, maka dia bertafakur dan hatinya menjadi tersentuh; karena dia merasakan ada perbedaan yang begitu jelas antara dua kondisi ini. Penyebab hal ini adalah menceburkan diri dalam berbagai hal yang menjadi sebab pendukung berbagai peristiwa tersebut.
Maka engkau haruslah menyendiri, berdzikir dan mencermati ilmu; karena menyepi adalah satu penjagaan, sedangkan bertafakur dan ilmu adalah obat; dan obat bila dicampur baur (tanpa aturan), tidak akan berguna. Dan realita dirimu banyak bercampur-baur dengan orang-orang serta mencampur aduk perbuatan sudah begitu mendarah daging dalam dirimu; maka tak ada obat penawar bagimu selain resep yang telah aku berikan.
Adapun bila engkau berbaur dengan orang-orang dan bersinggungan dengan hawa nafsu, lalu engkau menginginkan bersihnya hati, maka berarti engkau menginginkan hal yang tidak mungkin.
- Shaidul Khatir, Ibnul Jauzy , Darul Haq -
- Shaidul Khatir, Ibnul Jauzy , Darul Haq -

Komentar
Posting Komentar