Aku renungkan maksud di balik penciptaan manusia, ternyata adalah (agar dia) merendahkan diri (terhadap Allah), dan meyakini bahwa dirinya telah melakukan kekurangan dan memiliki kelemahan. Aku contohkan para ulama dan ahli zuhud yang mengamalkan apa yang mereka punya dalam dua klasifikasi Aku kategorikan (nama-nama berikut)dalam barisan ara ulama:
Malik, Sufyan, Abu Hanifah, Asy-Syafi'i, dan Ahmad. Sedangkan dalam barisan para ahli ibadah: Malik bin Dinar, Rabi'ah, Ma'ruf al-Karkhi, dan Bisyr bin al-Harits.
Setiap kali para ahli ibadah bersungguh-sungguh dalam ibadah, maka kondisi diri mereka seolah berkata, "Ibadah kalian manfaatnya hanya dirasakan oleh kalian saja. Yang manfaatnya menjalar pada orang lain hanyalah para ulama. Merekalah pewaris para nabi, para pemimpin di muka bumi. Merekalah yang dijadikan sebagai pegangan. Merekalah yang mempunyai keutamaan apabila mereka menundukkan hati, khusyu', dan tahu kebenaran keadaan tersebut...". Malik bin Dinar datang kepada al-Hasan untuk belajar darinya. Dia berkata, "Al-Hasan adalah ustadz kami."
Demikian pula bila para ulama tahu bahwa mereka memiliki keutamaan dengan ilmu, maka kondisi diri mereka (Seolah) berteriak dengan lantang kepada para ulama, "Bukankah tidak ada tujuan dari ilmu selain untuk diamalkan?!"
Ahmad bin Hanbal berkata, "Bukankah tidak ada yang dimaksudkan dari ilmu selain apa yang telah dicapai oleh Ma'ruf (al-Karkhi)?! " .
Ummu ad-Darda` berkata kepada seorang lelaki, "Apakah engkau mengamalkan ilmu yang telah engkau ketahui?" Dia menjawab, "Tidak" Ummu ad-Darda` berujar, Lalu mengapa engkau justru memperbanyak hal yang akan menjadi bukti (hujjah) Yang memberatkanmu (kelak)?"
Maka Firman Allah berikut tidaklah mempengaruhi semua orang,
"Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui? (Az-Zumar:9)
Sufyan datang kepada Rabi'ah, lalu dia duduk di hadapannya untuk mengambil faidah ucapannya.
Ilmu menunjukkan kepada para Ulama bahwa yang menjadi tujuan ilmu adalah untuk diamalkan, dan bahwa ilmu adalah perangkat . Maka dari itu para ulama penuh khusyu' dan mengakui kekurangan (yang telah mereka lakukan)
Masing-masing dari mereka mempunyai pengakuan dan kerendahan (di hadapan Allah); maka pengetahuan mereka menghasilkan hakikat ibadah dengan pengakuan mereka. Dan itulah maksud dari taklif (dibebankannya syariat atas hamba)
- Shaidul Khatir, Ibnul Jauzy , Darul Haq -

Komentar
Posting Komentar