Langsung ke konten utama

Maksud dan Tujuan Menikah


Aku merenungkan faidah-faidah, makna-makna dan pokok-pokok masalah pernikahan; maka aku melihat bahwa tujuan yang paling utama dari pensyariatannya adalah lahirnya keturunan (regenerasi); karena makhluk hidup (seperti kita) ini selalu selalu mengalami penguraian, kemudian bagian tubuh yang terurai ini akan digantikan oleh makanan, kemudian begian pokoknya akan terurai juga , yang itu tidak bisa digantikan oleh apapun juga. Jadi tubuh manusia ini pasti binasa, sedangkan yang diinginkan adalah terus berkelanjutannya waktu dunia, maka keturunan dijadikan sebagai pengganti dari nenek moyang asalnya.

Dan karena bentuk persetubuhan itu tertolak oleh jiwa yang mulia, berupa membuka aurat dan bertemunya sesuatu yang kurang elok dipandang oleh dirinya sendiri, maka dijadikanlah syahwat birahi untuk mendorong seseorang melakukannya; agar maksud yang diinginkan bisa tercapai.

Kemudian aku perhatikan bahwa tujuan utama ini diikuti juga oleh tujuan yang lain, yaitu mengeluarkan air mani yang bila terus ditahan, keberadaannya akan menjadi penyakit. Bila berkumpulnya mani terus bertambah, itu akan membuat resah, seperti resahnya seorang yang menahan air kencingnya. Hanya saja dari sudut esensinya, kegelisahan yang ditimbulkan oleh tertahannya mani lebih berat daripada kegelisahan yang ditimbulkan secara fisik oleh tertahannya air seni. Banyak bertumpuknya mani dan lamanya ia tertahan (di dalam tubuh) akan menyebabkan berbagai penyakit yang sulit untuk disembuhkan.

Maka barangsiapa yang menginginkan anak yang cerdik dan memenuhi kebutuhan biologisnya, hendaknya dia memilih siapa yang akan dia nikahi:

Bila dia ingin mencari istri, hendaknya melihatnya dulu. Bila wanita itu menarik hatinya, maka hendaklah dia menikahinya. Imam Ahmad telah menyatakan bolehnya seorang lelaki melihat sesuatu yang sebenarnya menjadi aurat dari perempuan yang ingin dia nikahi. Yang beliau maksudkan di sini adalah yang lebih dari sekadar melihat wajah.

Kemudian bagi orang yang hendak memilih istri, hendaknya dia mengecek tentang akhlaknya, karena akhlak termasuk hal yang tersembunyi. Bentuk fisik (yang indah) bila tanpa diiringi bagusnya jiwa, tak ubahnya seperti tanaman hijau dan bagus yang tumbuh di tempat kotor. Padahal mendapatkan anak yang cerdas menjadi tujuan yang ingin dicapai.

Maka barangsiapa yang mampu mendapatkan wanita yang shalihah, baik secara fisik maupun jiwa, hendaknya dia menutup mata dari berbagai kekurangannya. Sang perempuan juga hendaknya berupaya untuk mencari hal-hal yang membuat suami ridha. Ketika dekat tidak membuat jemu, kala jauh tidak membuat lupa. Sang istri hendaknya berani untuk mempersembahkan berbagai aksi untuk sang suami. Dari situ akan terwujud dua maksud; memperoleh anak dan bisa memenuhi kebutuhan biologis. Kemudian bila dia memang mampu untuk memperbanyak, lalu dia menambahkan (istri) yang lainnya, dan dia tahu bahwa dengan hal itu dia akan mencapai tujuan yang membuat hatinya lebih tenang, maka itu lebih utama bagi kondisinya.

Tapi kalu dia takut terjadi kecemburuan yang membuat hati menjadi terusik -padahal kita telah mengupayakan untuk membuat hati ini fokus dengan apa yang ingin dicapai -, atau takut akan keberadaan istri yang molek yang bisa melupakan akhirat, atau yang meminta hal yang membuat suami keluar dari sikap wara', maka cukuplah satu istri baginya.

Mencintai wanita yang dicinta bisa menyalurkan air mani yang terkumpul, sehingga akan menghasilkan diperolehnya anak yang cerdik, dan sekaligus terpenuhinya kebutuhan biologis yang sempurna.

- Shaidul Khatir. Ibnul Jauzi. Darul Haq -

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Balasan setipe dengan perbuatan

Barangsiapa yang mencermati perbuatan-perbuatan Sang Pencipta, dia akan melihatnya sesuai dengan timbangan keadilan, dan dia akan melihat balasan sudah menanti orang yang berhak mendapatkan balasan tersebut, meski setelah berselang beberapa waktu. Maka tidak sepantasnya orang (yang zahirnya seolah) dimaafkan dari dosa menjadi terpedaya; karena balasan itu terkadang ditangguhkan. Di antara dosa yang paling buruk yang telah disediakan untuknya balasan yang besar adalah terus-menerus melakukan dosa, kemudian pelakunya berbasa-basi dengan melakukan Istighfar, shalat dan beribadah. Menurut dia basa basi ini dapat memberi manfaat. Manusia yang paling besar ketertipuannya adalah orang yang melakukan hal yang dibenci Allah, lalu dia meminta kepada Allah apa yang dia inginkan; Sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadist (yang artinya), "Orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan dirinya pada hawa nafsunya, dan dia mengangankan berbagai macam angan-angan dari Allah (ag...

Tahapan dalam membaca buku

Keadaan awal yang dialami manusia adalah ketidaktahuan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya : “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun” [QS. An Nahl : 78]. Pengetahuan tidak dapat diperoleh dalam waktu semalam, dan seseorang tidak bisa menjadi seorang ‘ bibliophile’ yang mengikuti metode membaca yang benar dalam waktu semalam. Mengembangkan kebiasaan membaca memerlukan kesabaran dan membutuhkan waktu setahap demi setahap. Tahapan yang dialami seseorang dalam mengembangkan kebiasaan membacanya, secara umum biasanya melalui lima tahap berikut : Mulai menanamkan kecintaan membaca dalam jiwa dan mulai bersahabat dengan buku. Untuk memulai menanamkan kebiasaan ini, membutuhkan berbagai variasi metode serta konten yang menarik sehingga mendorong seseorang untuk membaca. Seperti Biografi Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasalam , biografi Shahabat dan kisah-kisah menarik lainnya. Serious Reading : Disi...

Murottal Al-Quran Syaikh Abdurrahman Al-Ausy

Berikut adalah link download Murottal Al-Qur'an Syaikh Abdurrahman Gamal Allousy. https://drive.google.com/open?id=0B7zJ2OmxYY6DckQ0TE9NYTgtYmM Semoga bermanfaat.