Segala hal yang Allah ciptakan di dunia merupakan bentuk contoh dari apa yang ada di akhirat. Dan segala hal yang terjadi di dalamnya merupakan percontohan dari apa yang terjadi di akhirat.
Adapun yang terjadi di dunia maka setiap orang yang zhalim akan dikenai siksa di dunia atas kezhalimannya sebelum dia disiksa di akhirat kelak. Demikian pula setiap orang yang berbuat dosa. Ini adalah makna dari Firman Allah (yang artinya) :
"Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu." (An-Nisa`: 123).
Mungkin saja seorang yang berbuat maksiat melihat badan dan hartanya selamat, lalu dia menyangka tak ada hukuman (atas perbuatannya). Padahal kelengahannya dari hukuman yang ditimpakan padanya adalah hukuman.
Orang-orang bijak berkata, “Maksiat setelah maksiat merupakan hukuman dari maksiat. Sedangkan kebaikan setelah kebaikan merupakan pahala dari kebaikan."
Bisa juga bahwa hukuman yang disegerakan di dunia itu bersifat maknawi (bukan hukuman yang bersifat materi atau fisik). Sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama Bani Israil, "Wahai Tuhanku! Berapa banyak aku bermaksiat kepadaMu dan Engkau tidak menghukumku!" Maka dijawab, “Berapa banyak Aku menghukummu, namun engkau tidak tahu! Bukankah Aku telah menghalangimu dari nikmatnya bermunajat kepadaKu?"
Maka barangsiapa yang mencermati jenis hukuman ini, niscaya dia dapatkan jenis hukuman ini sudah menantinya. Berapa banyak orang yang menjadikan pandangannya liar, lalu Allah mengharamkan mata hatinya untuk bisa mengambil pelajaran. Atau (orang Yang tiak mengendalikan) lidahnya, lalu Allah menghalanginya dari kejernihan hatinya. atau lebih mendahulukan hal yang syubhat dalam makanannya, lalu hatinya menjadi gelap, tak bisa mendirikan shalat malam, dan terhalang dari manisnya munajat..., dan hal-hal lain yang serupa, Ini adalah hal yang diketahui oleh orang yang biasa mengintrospeksi dirinya (muhasabah).
Sebaliknya, orang yang bertakwa kepada Allah akan segera mendapatkan balasan yang baik di dunia atas takwanya,adapun bentuk balasan setimpal yang jelas dalam bentuk lahiriah, jarang sekali hal itu tertahan. Di antaranya adalah Sabda Nabi Shollalahu'alaihi wasallam
“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar terhalang dari rizki dikarenakan dosa yang dia perbuat." [HR.Ahmad no. 21881, Ibnu Majah no. 4022]
Hal seperti ini bila direnungkan oleh orang yang punya mata hati, dia akan melihat balasan dan memahaminya. Sebagaimana yang dikatakan oleh al-Fudhail, "Sungguh, aku benar-benar bermaksiat kepada Allah, lalu aku mengetahui hal itu tercermin dalam perilaku tungganganku dan perangai budak perempuanku."
Dan dari Abu Utsman an-Naisaburi, bahwa tali sandalnya putus kala dia pergi ke shalat Jum'at. Maka dia terhalang beberapa saat untuk memperbaikinya, kemudian dia berkata, “Tali sandalku tidaklah putus kecuali karena aku tidak mandi untuk shalat Jum'at."
Sekiranya seseorang meninggalkan suatu maksiat karena Allah, pastilah dia akan melihat buah hasilnya. Demikian pula bila dia melakukan ketaatan.
- Shaidul Khatir, Ibnul Jauzi, Darul Haq -

Komentar
Posting Komentar