Kitab memiliki kedudukan yang sangat tinggi di hati Para Ulama, kitab adalah teman yang tidak pernah membuat bosan, teman dalam perjalanan, teman dalam keramaian dan hiburan saat berada dalam kesepian di keterasingan. Seperti yang pernah dikatakan oleh Ibnul Mubarak,semoga Allah merahmatinya:
"Wahai Ibnul Mubarak, Mengapa engkau tidak keluar dan bercengkrama bersama para sahabatmu",
Beliau Menjawab : "Ketika saya berada didalam rumah, saya sedang duduk dan bercengkrama dengan sahabat Rasulullah Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa sallam" .
Maksudnya, beliau sedang membaca Siroh Para Sahabat.
Safiq bin Ibrahim Al-Balkhi semoga Allah merahmatinya, berkata kepada Ibnul Mubarak :
"Saat shalat anda bersama kami, namun mengapa anda tidak duduk bercengkrama bersama kami setelah shalat",
Beliau menjawab : "Saya duduk bersama Para Tabi'in dan Para Sahabat",
kami bertanya :"Dimana para Tabi'in dan Para Sahabat?",
Beliau menjawab :"Saya membaca dan mempelajari perjalanan hidup mereka, kemudian saya meneladani perkataan dan perbuatan mereka. Apa yang akan saya lakukan bila duduk bersama kalian, kalian duduk bercengkrama dan membicarakan orang lain"
"Wahai Ibnul Mubarak, Mengapa engkau tidak keluar dan bercengkrama bersama para sahabatmu",
Beliau Menjawab : "Ketika saya berada didalam rumah, saya sedang duduk dan bercengkrama dengan sahabat Rasulullah Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa sallam" .
Maksudnya, beliau sedang membaca Siroh Para Sahabat.
Safiq bin Ibrahim Al-Balkhi semoga Allah merahmatinya, berkata kepada Ibnul Mubarak :
"Saat shalat anda bersama kami, namun mengapa anda tidak duduk bercengkrama bersama kami setelah shalat",
Beliau menjawab : "Saya duduk bersama Para Tabi'in dan Para Sahabat",
kami bertanya :"Dimana para Tabi'in dan Para Sahabat?",
Beliau menjawab :"Saya membaca dan mempelajari perjalanan hidup mereka, kemudian saya meneladani perkataan dan perbuatan mereka. Apa yang akan saya lakukan bila duduk bersama kalian, kalian duduk bercengkrama dan membicarakan orang lain"
Az-Zuhri, semoga Allah merahmatinya, memiliki koleksi kitab yang sangat banyak dan biasa membawanya ke manapun beliau pergi sehingga istrinya berkata :"Demi Allah, Kitab-kitab ini lebih berat bagiku daripada tiga rekan istri". Dikatakan kepada salah seorang Ulama :"Apa yang dapat membuat hatimu terhibur?", Beliau Menjawab "Ini", sambil menepuk-nepuk buku dengan tangannya dan berkata "Bacalah". kemudian dikatakan : "Bagaimana dengan orang-orang?" Beliau menjawab :"Mereka ada dalam buku ini"
Para Ulama biasa membaca sepanjang waktu, Ibnul Qayyim, semoga Allah merahmatinya, berkata :"Saya mengetahui ada diantara mereka yang sedang terbaring karena sakit kepala atau demam namun buku-bukunya tetap berada dibawah kepala mereka, kapanpun mereka terbangun mereka akan membaca buku tersebut, dan jika mereka menghadapi keadaan sulit atau kelelahan, mereka akan meletakkan buku-buku tersebut kemudian istirahat" Ketika tabib (dokter) datang untuk memeriksanya dan melihat keadaan yang seperti itu, dokter tersebut kemudian berkata :"Anda tidak boleh melakukan hal seperti ini",
Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Lu’lu’i, semoga Allah merahmatinya, berkata: "Empat puluh tahun hidupku berlalu, dan aku tidak pernah terbangun atau tidur kecuali bahwa ada buku di dadaku.". Yang lainnya terbiasa tidur dengan buku catatan berada disekitar tempat tidurnya, mereka akan membaca buku catatan tersebut ketika mereka terbangun dari tidur, dan sebelum tidur. Al Hafidh Al-Khatib Al-Baghdadi, semoga Allah merahmatinya, biasa berjalan dengan membawa berjilid-jilid buku, sambil membacanya. Sebagian Ulama lainnya ada yang memberikan syarat kepada yang mengundang untuk menyediakan tempat khusus di acara tersebut yang dapat digunakan untuk menempatkan sebuah buku supaya bisa membaca buku. Bahkan ada diantara mereka yang saat sedang membaca didepan sebuah lentera, api dari lentera tersebut membakar surban mereka dan mereka tidak menyadarinya sampai api tersebut membakar beberapa helai dari rambut mereka dan barulah mereka menyadari.
Abu Al-`Abbaas Al-Mubarrid, semoga Allah merahmatinya, berkata : "Saya tidak pernah melihat seseorang yang lebih tertarik kepada ilmu kecuali tiga orang : Al-Jaahith (dan dia adalah seorang Mu'tazilah), Al-Fath bin Khalqaan dan Ismail bin Ishaq Al-Qadhi. Adapun Al-Jaahith, ketika dia meletakkan sebuah buku di depannya, dia akan membacanya dari awal sampai akhir buku tersebut, apapun jenis buku tersebut. Adapun Al-Fath bin Khalqaan, Ia selalu membawa buku didalam sakunya, ketika dia pergi untuk buang air kecil atau untuk mendatangi masjid ketika hendak Shalat, dia mengambil buku tersebut kemudian membaca sambil berjalan, hingga sampai ke tempat tujuan, kemudian melakukan hal yang sama ketika beliau pulang hingga sampai ke tempat duduknya. Adapun untuk Ismail bin Ishaq, maka saya sama sekali tidak pernah masuk ke rumahnya, kecuali dia sedang membaca buku, atau sedang membolak balik buku untuk memilih buku yang akan ia baca"
Kegemaran para Salafus Shalih dan Ulama Islam dalam mengumpulkan dan membaca buku benar-benar sangat luar biasa. Ibnul Jauzy semoga Allah merahmatinya, berkata :"Saat menceritakan tentang diri saya, saya tidak akan pernah puas dalam membaca buku. Jika saya menemukan sebuah buku yang belum pernah saya baca, maka seolah-olah saya menemukan sebuah harta karun yang sangat berharga. Saya telah membaca dua puluh ribu jilid buku, bahkan lebih dari itu, dan saya masih menuntut ilmu" Yang lain berkata: "Jika saya menemukan sebuah buku bagus dan berharap itu akan bermanfaat, dan ternyata buku tersebut bagus dan bermanfaat, saya akan terus melihat berapa banyak halaman yang tersisa saat membaca, karena takut akan segera menyelesaikan buku ini."
Para Ulama biasa menghabiskan kekayaannya untuk mendapatkan buku, bahkan mereka rela menghabiskan harta benda apapun yang dimiliki untuk mendapatkan buku. Al-Fayrus Abaadi semoga Allah merahmatinya, menghabiskan 50.000 dinar emas untuk membeli buku-buku, dan beliau tidak akan bepergian tanpa buku yang beliau bawa dan beliau baca setiap kali beliau berhenti dalam perjalanannya.
Sebagian Ulama akan memperhatikan pembuatan tempat saku untuk buku ketika menjahit pakaian, Seperti yang dilakukan Imam Abu Dawud, semoga Allah merahmatinya, dahulu biasanya jenis pakaian ada yang memiliki model lengan yang longgar dan ada lengan yang sempit, dibawakan kepada beliau kedua model pakaian tersebut, kemudia beliau berkata :"Pakaian dengan model lengan lebar adalah untuk menempatkan buku, sedangkan model lengan yang sempit tidak diperlukan". Sebagian Ulama memiliki rak buku (tempat buku), dan bahkan mereka memiliki 3 salinan untuk setiap buku yang mereka miliki.
Perhatian yang mendalam Para Ulama terhadap buku terlihat dari tulisan dan karya-karya mereka yang berhubungan dengan buku dan penulisan. Para Ulama menulis bab khusus tentang etika seorang penuntut ilmu ketika berinteraksi dengan buku, bagaimana cara yang baik dalam menulis buku, menganjurkan mereka untuk menggunakan kertas yang bagus untuk menulis, pena yang bagus dan nyaman untuk menulis, tinta yang berkualitas dan warnanya, cara merawat buku yang baik, dan etika-etika yang lainnya.
[Selesai]
Para Ulama biasa membaca sepanjang waktu, Ibnul Qayyim, semoga Allah merahmatinya, berkata :"Saya mengetahui ada diantara mereka yang sedang terbaring karena sakit kepala atau demam namun buku-bukunya tetap berada dibawah kepala mereka, kapanpun mereka terbangun mereka akan membaca buku tersebut, dan jika mereka menghadapi keadaan sulit atau kelelahan, mereka akan meletakkan buku-buku tersebut kemudian istirahat" Ketika tabib (dokter) datang untuk memeriksanya dan melihat keadaan yang seperti itu, dokter tersebut kemudian berkata :"Anda tidak boleh melakukan hal seperti ini",
Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Lu’lu’i, semoga Allah merahmatinya, berkata: "Empat puluh tahun hidupku berlalu, dan aku tidak pernah terbangun atau tidur kecuali bahwa ada buku di dadaku.". Yang lainnya terbiasa tidur dengan buku catatan berada disekitar tempat tidurnya, mereka akan membaca buku catatan tersebut ketika mereka terbangun dari tidur, dan sebelum tidur. Al Hafidh Al-Khatib Al-Baghdadi, semoga Allah merahmatinya, biasa berjalan dengan membawa berjilid-jilid buku, sambil membacanya. Sebagian Ulama lainnya ada yang memberikan syarat kepada yang mengundang untuk menyediakan tempat khusus di acara tersebut yang dapat digunakan untuk menempatkan sebuah buku supaya bisa membaca buku. Bahkan ada diantara mereka yang saat sedang membaca didepan sebuah lentera, api dari lentera tersebut membakar surban mereka dan mereka tidak menyadarinya sampai api tersebut membakar beberapa helai dari rambut mereka dan barulah mereka menyadari.
Abu Al-`Abbaas Al-Mubarrid, semoga Allah merahmatinya, berkata : "Saya tidak pernah melihat seseorang yang lebih tertarik kepada ilmu kecuali tiga orang : Al-Jaahith (dan dia adalah seorang Mu'tazilah), Al-Fath bin Khalqaan dan Ismail bin Ishaq Al-Qadhi. Adapun Al-Jaahith, ketika dia meletakkan sebuah buku di depannya, dia akan membacanya dari awal sampai akhir buku tersebut, apapun jenis buku tersebut. Adapun Al-Fath bin Khalqaan, Ia selalu membawa buku didalam sakunya, ketika dia pergi untuk buang air kecil atau untuk mendatangi masjid ketika hendak Shalat, dia mengambil buku tersebut kemudian membaca sambil berjalan, hingga sampai ke tempat tujuan, kemudian melakukan hal yang sama ketika beliau pulang hingga sampai ke tempat duduknya. Adapun untuk Ismail bin Ishaq, maka saya sama sekali tidak pernah masuk ke rumahnya, kecuali dia sedang membaca buku, atau sedang membolak balik buku untuk memilih buku yang akan ia baca"
Kegemaran para Salafus Shalih dan Ulama Islam dalam mengumpulkan dan membaca buku benar-benar sangat luar biasa. Ibnul Jauzy semoga Allah merahmatinya, berkata :"Saat menceritakan tentang diri saya, saya tidak akan pernah puas dalam membaca buku. Jika saya menemukan sebuah buku yang belum pernah saya baca, maka seolah-olah saya menemukan sebuah harta karun yang sangat berharga. Saya telah membaca dua puluh ribu jilid buku, bahkan lebih dari itu, dan saya masih menuntut ilmu" Yang lain berkata: "Jika saya menemukan sebuah buku bagus dan berharap itu akan bermanfaat, dan ternyata buku tersebut bagus dan bermanfaat, saya akan terus melihat berapa banyak halaman yang tersisa saat membaca, karena takut akan segera menyelesaikan buku ini."
Para Ulama biasa menghabiskan kekayaannya untuk mendapatkan buku, bahkan mereka rela menghabiskan harta benda apapun yang dimiliki untuk mendapatkan buku. Al-Fayrus Abaadi semoga Allah merahmatinya, menghabiskan 50.000 dinar emas untuk membeli buku-buku, dan beliau tidak akan bepergian tanpa buku yang beliau bawa dan beliau baca setiap kali beliau berhenti dalam perjalanannya.
Sebagian Ulama akan memperhatikan pembuatan tempat saku untuk buku ketika menjahit pakaian, Seperti yang dilakukan Imam Abu Dawud, semoga Allah merahmatinya, dahulu biasanya jenis pakaian ada yang memiliki model lengan yang longgar dan ada lengan yang sempit, dibawakan kepada beliau kedua model pakaian tersebut, kemudia beliau berkata :"Pakaian dengan model lengan lebar adalah untuk menempatkan buku, sedangkan model lengan yang sempit tidak diperlukan". Sebagian Ulama memiliki rak buku (tempat buku), dan bahkan mereka memiliki 3 salinan untuk setiap buku yang mereka miliki.
Perhatian yang mendalam Para Ulama terhadap buku terlihat dari tulisan dan karya-karya mereka yang berhubungan dengan buku dan penulisan. Para Ulama menulis bab khusus tentang etika seorang penuntut ilmu ketika berinteraksi dengan buku, bagaimana cara yang baik dalam menulis buku, menganjurkan mereka untuk menggunakan kertas yang bagus untuk menulis, pena yang bagus dan nyaman untuk menulis, tinta yang berkualitas dan warnanya, cara merawat buku yang baik, dan etika-etika yang lainnya.
[Selesai]
Terjemah Bebas dari buku karya Syaikh Al Munajjid berjudul : How to read books?
(gambar diambil dari instagram Ustadz act_elgharantaly)
Komentar
Posting Komentar