Langsung ke konten utama

Manajemen Waktu Asy-Syamsul Ashbahani

Disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab Ad-Durarul Kaminah (VI:85) tentang biografi Imam Al-Allamah Syamsuddin Abu Ats-Tsana' Al-Ashbahani (Mahmud bin Abdurrahman bin Ahmad) , tokoh Mahdzab Syafi'i, pakar ilmu ushul fikih, fikih dan tafsir , lahir di Ashbahan tahun 674 H dan wafat di kairo tahun 759 H. Dikatakan, "Beliau giat mempelajari ilmu di negerinya, sampai beliau mahir dan menguasai sejumlah disiplin ilmu. Setelah itu beliau pergi ke Damaskus setelah mengunjungi Al-Quds pada bulan shafar tahun 725 H. Keutamaan ilmu beliau dirasakan langsung oleh penduduk disana. Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah pernah mendengarkan wejangannya. Beliau berusaha sungguh-sungguh untuk menghormatinya. Suatu saat Ibnu Taimiyyah pernah berujar, 'Diamlah kalian, hingga kita mendengar ucapan orang yang memiliki keutamaan ini., tidak ada orang semulia beliau yang memasuki negeri kita', kemudian, Al-Ashbahani pindah ke Kairo dan beliau wafat disana."

Apa yang diceritakan tentang beliau ini menunjukkan antusiasnya terhadap ilmu dan 'pelit' nya beliau untuk menyia-nyiakan waktunya. Sebagian sahabatnya pernah menuturkan, bahwa beliau sangat menghindari makan yang banyak, yang tentunya akan butuh banyak minum, dan selanjutnya akan butuh banyak waktu untuk masuk WC. Sehingga waktu pun banyak yang terbuang. Lihatlah! Bagaimana mahalnya waktu dalam pandangan seorang imam yang mulia ini. Dan, tidaklah waktu itu mahal bagi beliau melainkan karena betapa mahalnya ilmu tersebut. Maka, alangkah cemerlangnya pandangan beliau.


Diambil dari buku Kisah Hidup Ulama Rabbani, Karya Syaikh Abdul Fattah Halaman 106-107.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia-rahasia yang Terpendam dalam Jiwa

Aku perhatikan tentang dalil-dalil adanya Allah Yang Maha Haq, maka aku mendapatkannya lebih banyak dari butiran pasir. Dan aku perhatikan yang paling menakjubkan adalah : Bahwa kadang manusia menyembunyikan hal yang tidak diridhai oleh Allah, lalu Allah menampakkannya pada dirinya meski setelah berlalu beberapa waktu. Atau Allah menjadikan lidah-lidah (manusia) menuturkannya meskipun orang-orang tidak menyaksikannya. Terkadang juga menjadikan si pelaku tertimpa suatu penyakit, di mana Allah mempermalukan si pelaku dengan penyakit di hadapan orang-orang. Sehingga ini menjadi jawaban dari setiap dosa yang dia sembunyikan. Hal itu agar orang tahu bahwa terdapat Dzat yang membalas atas suatu dosa. Tak ada tirai atau penghalang yang bisa menutupi dari takdir dan kuasaNya. Tak ada amal yang sia-sia di sisiNya. Demikian pula seseorang menyembunyikan ketaatan, maka itu pun akan tampak pula. Orang-orang akan memperbincangkannya dan bahkan (memperbincangkan) lebih dari itu, sampai-...

9. Kemaksiatan Memperpendek Umur dan Menghilangkan Keberkahannya

Jika seseorang berpaling dari Allah dan sibuk dengan kemaksiatan maka sirnalah kehidupan hakikinya yang kelak dia temui. Pelakunya akan merasakan akibat kemaksiatan tersebut pada hari ketika ia mengungkapkan penyesalannya. Rahasia masalah ini terletak pada pengertian umur manusia sebagai masa hidupnya. Tidak ada kehidupan baginya kecuali dengan mendekatkan diri kepada Rabbnya, menikmati dzikir dan kecintaan kepada-Nya, serta mengutamakan ridha-Nya. Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini. ( QS. Al-Fajr : 24 )

7. Maksiat Melemahkan Hati dan Badan

Dampak buruk maksiat dengan melemahnya hari merupakan perkara yang tampak dengan jelas, bahkan akan senantiasa memperlemahnya hingga berhasil memadamkan cahaya hati secara keseluruhan. Adapun pengaruhnya yang melemahkan badan dikarenakan kekuatan seseorang Mukmin bersumber dari hati. Jika hatinya kuat, maka badannya juga demikian. Adapun orang yang berdosa adalah orang yang paling lemah ketika dibutuhkan, meskipun memiliki tubuh yang kuat.